4 Arahan Presiden Soal Peta Jalan Pendidikan 2020-2035

Redaksi   |   Pendidikan  |   Kamis, 04 Juni 2020 - 21:33:14 WIB   |  dibaca: 1011 kali
4 Arahan Presiden Soal Peta Jalan Pendidikan 2020-2035

Presiden saat memimpin Ratas mengenai Peta Jalan Pendidikan untuk 2020-2035 melalui konferensi video, dari Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (4/6). (Foto: Humas/Rahmat).

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Rapat Terbatas (Ratas) membahas Peta Jalan Pendidikan untuk 2020-2035 melalui konferensi video, dari Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (4/6).

“Kita harus mengantisipasi perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia ini, mulai dari disrupsi teknologi yang berdampak pada semua sektor baik penerapan otomatisasi, artificial intelligencebig datainternet of things (IoT),” tutur Presiden Jokowi.

Selain itu, menurut Presiden Pemerintah juga harus mengantisipasi perubahan demografi, profil sosio-ekonomi dari populasi yang termasuk perubahan dalam pasar tenaga kerja yang lebih fleksibel.

“Perubahan lingkungan, hingga perubahan struktural yang sangat cepat akibat pandemi Covid yang kita alami sekarang ini, misalnya pembelajaran jarak jauh, percepatan digitalisasi maupun less contact economy,” imbuh Presiden.

Banyak negara di dunia, menurut Presiden, sudah mulai mengadaptasi sistem pendidikannya, baik itu pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, menengah, vokasi, dan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan perubahan besar yang ada.

Untuk itu, Presiden menyampaikan beberapa hal penekanan untuk menjadi perhatian, sebagai berikut:

Pertama, cara bekerja pada masa depan akan jauh lebih berbeda dengan yang dialami hari ini.

“Maka pembentukan SDM yang unggul di masa depan tidak bisa lagi berdasarkan perkembangan ilmu yang dibentuk oleh berdasarkan tren masa lalu, tapi tren masa depan,” kata Presiden.

Untuk itu, Presiden minta dilakukan benchmarking pada negara-negara yang telah berhasil mengadaptasi sistem pendidikan utuk memenuhi kebutuhan perubahan di masa depan.

“Seperti di Australia untuk pendidikan anak sekolah dini, Finlandia untuk pendidikan dasar dan menengah, di Jerman untuk pendidikan vokasi, di Korea untuk perguruan tinggi,” jelas Presiden.

Kedua, SDM unggul yang ingin dibangun adalah SDM berkarakter, berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.

“Pendidikan karakter tidak boleh dilupakan karena ini merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan mental dan karakter bangsa,” ungkap Presiden.

Ketiga, ada target-target yang terukur.

“Berapa target angka partisipasi untuk pendidikan dasar dan menengah (serta) pendidikan tinggi. Saya kira ini kita buat targetnya yang tinggi saja biar kita optimis, biar kita semangat,” ujar Presiden.

Kemudian, Presiden jelaskan seperti apa target untuk hasil belajar berkualitas, baik itu berkaitan dengan perbaikan kualitas guru, perbaikan kurikulum, maupun infrastruktur sekolah, dan bagaimana untuk mewujudkan distribusi pendidikan yang inklusif serta merata.

Keempat, Presiden ingatkan kemampuan untuk melakukan reform tidak hanya ditentukan satu kementerian, Kemendikbud, tapi juga memerlukan dukungan komunitas pendidikan.

Menurut Presiden, diperlukan dukungan dari kementerian dan lembaga, dukungan masyarakat, pemerintah daerah, dan juga kemitraan dengan swasta.

“Karena reformasi pendidikan bukan hanya mencangkup penyesuaian kurikulum, pedagogi,  dan metode penilaian, tetapi juga menyangkut perbaikan infrastruktur, penyediaan akses teknologi dan juga yang berkaitan dengan dukungan pendanaan,” pungkas Presiden. (FID/EN)

Profil Redaksi

Redaksi

isi keterangan ini untuk melengkapi isi profil. isi keterangan ini untuk melengkapi isi profil. isi keterangan ini untuk melengkapi isi profil. isi keterangan ini untuk melengkapi isi profil.

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook